Dapurku, Istriku dan Lelahku
Apa yang anda ketahui tentang dapur? ya, dapur adalah sebuah tempat mengolah semua makanan sehat untuk energi kita menjalani hari-hari. Makanan yang dibuat oleh ibu kita, istri kita, adik, kakak, atau koki yang lezat, enak dan sehat. Terkadang kita membayangkan kelezatan makanan yang kita makan sama dengan kebersihan dapur tempat mengolahnya. Bagaimana jika anda menemukan dapur yang kotor dan sama sekali tidak higenis? tentu saja perut terasa diobok-obok.
Hari ini aku sudah tak tahan lagi ingin mencurahkan semua keluh kesah tentang istriku yang kucintai. Disini aku hanya ingin menulis apa yang telah lama menduri di otakku. Ini tentang dapur istriku, dapur tempat dia membuat makanan untukku dan anakku, dapur yang bisa menghasilkan dan membuahkan cinta di hati terhadap istri tercinta. Tapi kini semakin hari semakin berat untuk kunikmati.
Latar belakang kami memang berbeda, baik tingkah laku maupun kebiasaan. Tapi siapa yang pernah melihat keluarga yang serasi dalam segala hal? tidak pernah kutemui keluarga seperti itu. Aku tak pernah dididik dengan orang tuaku tentang arti bersih, tapi yang kuingat dari almarhum orang tuaku. Beliau-beliau selalu mengomel kalau ada sampah berserakan, barang-barang yang tergeletak bukan di tempatnya, perihal mandi dan sebagainya. Mungkin dari omelan-omelan mereka aku jadi tahu arti disiplin, arti bersih, arti sehat. Aku memang bukan orang yang sempurna dari berbagai hal tadi, tapi aku terbiasa pulang kerumah dengan kondisi rumah seperti saat aku tinggalkan. Lantai yang tidak meninggalkan bekas di kaki, dan sirkulasi udara yang segar, apalagi jika ada wewangian lemon. Semua beban kerja terasa hilang.
Tapi lain dulu, lain sekarang. Sekarang aku telah beristri dan memiliki anak. Kebiasaan yang lama diajarkan sekarang menjadi warisan yang mesti diturunkan ke anak cucuku. Tapi ternyata tak semudah itu, istriku ternyata memiliki kebiasaan yang 90 derajat berbeda dengan kebiasaanku. Dari bahasa yang lembut sampai ke bahasa yang keras telah kujalani untuk membimbingnya, tapi ternyata semua tumpul. Dulu aku memang banyak menyisakan waktu di rumah, kadang aku mencuci piring, mengepel lantai, membersihkan sampah.
Sekarang sudah tak bisa lagi. Terhimpit kebutuhan keluarga, aku mesti mencari mata pencaharian lain. Sehingga aku mesti bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam. Tapi apa yang terjadi di rumah. Semua jadi tak terurus, sampah berserakan, rumah terlihat kusam dan barang-barang berserakan dimana-mana. Dari mainan sampai pakaian. Ruangan baru dirapikan setelah aku menginjakkan kaki di teras rumah. Penat pekerjaan diluar semakin memecahkan pikiranku setelah melihat rumah yang berantakan. Sudah lelah aku untuk berkata. Setiap hari aku semakin berbahasa kasar. Aku tersiksa karena aku bukan tipe orang yang berbicara dengan nada kasar dan tinggi. Beda dengan keluarga istriku yang sebagian dari Medan. Batak karo dan Jawa bukanlah kolaborasi yang baik. Tetapi bukan itu masalahnya, tetapi DISIPLIN.
Mereka sama sekali tidak mengenal disiplin. Rumah bagi mereka hanyalah tempat mereka tidur, sedangkan siang hari adalah tempat mereka bekerja dan belanja.
Tapi aku memilihnya untuk menjadi istriku seumur hidup. Aku tak bisa bilang kalau aku adalah suami yang baik, tetapi aku juga tak bisa bilang kalau aku adalah suami yang tak bisa membimbing keluarga, atau memang aku tak bisa. Benarkah aku telah gagal? Saat ini aku hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT, agar aku diberi kekuatan untk melanjutkan misi dan visi keluarga menjadi keluarga yang kuinginkan. Bersukur atas rizki dan berkah yang telah kuterima. Semoga Allah membukakan pintu hati istriku untuk bisa mendengarkan aku ……suaminya….Amin


20. Apr, 2009 






Tentang Saya :
Comments are closed.