Antara Laskar Pelangi & SD Muhammadiyah

Setelah menyaksikan sebuah film yang diadaptasi dari sebuah buku fenomenal LASKAR PELANGI, mengingatkan aku akan pencarian SD untuk anakku.

Tak terbayangkan olehku sebuah SD Islam terbesar di Indonesia begitu menyedihkan keberadaanya diantara SD-SD lainnya di sebuah pulau terkaya di Indonesia. Mereka harus memperjuangkan SD yang gedungnya bahkan lebih buruk dari rumah mertuaku,1 ruang guru, 2 kelas dan 1 gudang. Tapi hanya memiliki 10 orang murid..sulit…benar-benar sangat sulit.

Jangankan sebuah komputer, baju seragampun tak punya. Jangankan sandal, sepedapun lebih jelek dari onthel. Guru hanya 3 orang itupun gaji sering telat, makan sehari-hari hanya dari menjahit baju dan beras dari pusat yang juga sering lelet.

Misi Muhammdiyah begitu luhur dalam memurnikan moral agama dan kehidupan, mereka bahkan hampir tak memungut biaya apapun untuk menerima murid, sehingga harus menerima murid yang cacat mental hanya untuk memenuhi kuota pendidikan yang layak dari pusat.

Beda dengan sekarang. SD Muhammdiyah sudah bukan SD kacangan seperti dulu, tetapi sudah memasyarakat dan menasional.  Gedung bertingkat dan berbagai sarana dan prasarana lengkap tersedia di setiap SD Muhammadiyah se- Indonesia. Dari komputer sampai klinik kesehatan, dari lapangan bola sampai musholla yang berdiri mewah. Para orangtua muridpun berbondong-bondong dan berebut kursi pendidikan di sekolah ini. Tidak cuma 10 tetapi ratusan orang tua ingin menyekolahkan anaknya di sekolah terfavorit se-Indonesia ini. Tak ada lagi guru mulia seperti Bu Mus di Laskar Pelangi, sekarang guru terpilihlah yang berhak mengajar di Muhammadiyah

Saya sedih melihat keadaan SD ini sekarang. Lain dulu, lain sekarang. Tapi saya lihat sekarang lebih parah dari dulu. Sekolah yang digambarkan di film Laskar Pelangi dengan SD Muhammadiyah sekarang seperti langit dan bumi. Tak tahu dari sudut mana anda memandang, tapi saya memandang tak ada lagi misi mulia yang disandang SD ini seperti dulu, tak ada lagi biaya murah untuk masuk SD ini, tak ada lagi kesempatan untuk murid berbakat yang kurang mampu untuk sekolah di SD yang memborju ini.

Saya sempat meneteskan air mata saat menonton film ini. Tapi saya lebih menangis saat melihat biaya masuk SD ini ketika saya ingin mendaftarkan anak saya ke sekolah ini. Sebuah harga yang bahkan tak tercover oleh gaji saya selama 5 bulan. Sungguh ironis

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *