Bapak saya dulu jika bertemu orang jawa, ngomongnya langsung pakai bahasa Jawa. Ibuku orang Melayu kalo ketemu sesame orang Melayu langsung ngomong Melayu. Aku kalau bicara sama orang bisanya pakai bahasa Melayu campur bahasa Indonesia.

Bahasa adalah alat penyampai informasi dan komunikasi alamiah yang dimiliki manusia. Tujuannya agar apa yang kita pikirkan atau ingin sampaikan dapat dimengerti orang lain. Bahasa dulunya mungkin hanya ada satu dan dipakai oleh setiap manusia di dunia. Tetapi kini setiap suku dan budaya serta bangsa mempunyai bahasa mereka masing-masing.. Hal ini kemudian menimbulkan perbedaan tersendiri di masing-masing budaya yang di dunia. Saya ambil contoh kecil di daerah Pontianak, Singkawang dan sekitarnya. Hampir semua orang Tionghoa kuat memepertahankan bahasa mereka yaitu bahasa Khek. Tetapi yang saya herankan mengapa bahasa mereka begitu kental di masyarakat Pontianak. Sedangkan sewaktu saya pertama kali berada di Surabaya, saya sempat terkejut mendengar salah satu warga Tionghoa disana berbahasa Indonesia tetapi dengan logat Jawa. Apa bedanya warga Tionghoa yang tinggal di Surabaya dengan warga yang tinggal di Pontianak. Saya coba untuk berkomunikasi dengan mereka yang waktu itu kebetulan kami sedang berada di rumah makan. Dari percakapan kami ternyata mereka hanya menggunakan bahasa khek atau mandarin di dalam rumah saja atau sesama warga Tionghoa, mereka tak perlu menggunakannya di luar karena menganggu hubungan sosial mereka dengan warga yang bukan keturunan Tionghoa. Saya salut dengan mereka yang sudah sekian lama masih dapat mempertahankan bahasa asli mereka, tanpa membuat kesan mengotak-ngotak hubungan sosial mereka dengan warga suku lainnya. Tetapi bagaimana dengan orang Jawa yang ngomong Jawa, orang Sunda yang ngomong Sunda, Orang Medan yang ngomong Batak. Jika kita ngga suka mereka mengotak-ngotak bagaimana dengan kita? Aneh bukan?

Sejak itu saya selalu berpikir kenapa warga disana berbeda dengan warga Tionghoa yang berada di Pontianak atau di Kalimantan Barat. Di Pontianak sangat berbeda 90 derajat dengan Surabaya. Ada pengalaman lain yang cukup menarik untuk disimak, di tempat kerja saya suatu hari datang klien yang membawa salah satu atasan meraka yang datang dari luar kota. Sekilas aku aku melihat situasi di saat mereka berbicara. Klien saya berbicara bak orang planet dengan bos saya, ketika saya lihat raut wajah bosnya yang dari luar kota, tampak seperti kebingungan mendengar mereka berbicara. Mungkin dia mengerti bahasa Khek tetapi tak selancar yang lain, karena sudah membaur dengan masyarakat pribumi dan sedikit lupa akan bahasa Khek. Dari awal hingga akhir pembicaraan mereka semakin ngawur dan pak bos makin kebingungan saja.

Lalu ada satu lagi pengalaman saya mengenai warga Tionghoa di Pontianak. Waktu itu saya menerima klien tiga orang keturunan Tionghoa berseragam SMA. Pertama pembicaraan kami begitu akrab dan lancar menggunakan bahasa yang kami berempat mengerti satu sama lain, yaitu bahasa Indonesia. Ketika pembicaraan kami mulai hangat dua orang anak SMA tiba-tiba berbicara bahasa Planet ( khek). Ketika itu pula rekan satunya langsung menegur temannya.
“ wei, tolong dong pakai bahasa indon, bahasa indon”, ujarnya.
Saya cukup terkesima saat itu, dan merubah image saya terhadap warga Tionghoa disini. Saya begitu salut dengan rekan mereka yang menegur. Ternyata masih ada orang yang begitu menghargai orang lain lewat bahasa yang digunakan.

Satu pertanyaan saya mengenai semua kejadian ini. MENGAPA SEMUA INI TERJADI?
Sekarang ada sebuah kejadian yang bagi saya aneh. Di Singkawang kemarin hampir semua warga berkumpul dan berdemo di gedung Walikota untuk meminta walikota “turun tahta”. Hanya karena masalah tugu naga yang dibangun di kota Singkawang. Setelah saya usut, Dari rumor yang beredar ternyata walikota Singkawang terlalu RASIS. Mengenai hal tersebut saya pribadi tidak terlalu percaya akan hal tersebut, masa sih hanya gara-gara sebuah tugu yang bernuansa kebudayaan bisa menjadi masalah antar warga. Khan bagus jika punya tugu naga yang indah di jalan Singkawang yang cocok dengan julukan kota Amoy.

Warga Tionghoa disini seperti membentuk komunitas sendiri, seakan memisahkan diri dari masyarakat suku lainnya. Baik dari sikap mereka maupun hubungan sosial mereka. Walaupun tidak semua masyarakat mereka seperti itu. Saya sendiri tinggal di satu gang yang mayoritas warga Tionghoa, dan saya bisa membedakan masyarakat yang membaur dengan yang tidak.

Tetapi pada akhirnya, saya berpendapat mungkin memang beginilah sifat asli warga Tionghoa yang tinggal di Pontianak, sulit untuk kita warga asli merubah kebiasaan mereka. Mereka punya paham sendiri, budaya sendiri, kebiasaan sendiri atau mungkin punya misi sendiri….ehmm NOBODY KNOWS.

Tetapi untuk saya sendiri, saya merasa tidak dihargai sama sekali jika ada warga Tionghoa apalagi teman saya sendiri berbicara bahasa khek dengan warga Tionghoa lainnya di depan saya. Saya seakan melihat dinding diantara kami, ibarat seorang manusia biasa bertemu Alien yang baru datang ke bumi dan menunjukkan teknologi canggih mereka, dan berkata “Kowe orang nggak ada apa-apanya, kowe orang ka laut ajalah….haiya”…….ahhhh CAPE DEH

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.