Tadi malam kami melanjutkan pemburuan kami terhadap dunia kuliner di Pontianak sekalian weekend bersama keluarga. Kulineresiden kali ini jatuh pada Pondok Ale-Ale di belakang Pelni Pontianak (saya rasa warga Pontianak tahu tempat ini). Saya kurang mengetahui rumah makan ini sudah berdiri berapa lama. Tempat parkir terletak didepan rumah makan dan dijaga 2 orang tukang parkir. Jika dilihat dari depan, rumah makan ini terlihat sempit. Tapi coba anda masuk kedalamnya, terdapat ruangan lain disebelah kiri dalam rumah makan ini. Ruangan ini cukup besar dan terdapat beberapa lesehan yang remang-remang cocok untuk para kaum muda yang ingin makan malam dengan kekasih mereka.

Perpaduan rumah makan jawa melekat erat pada desain ruangannya, walaupun tak sulit untuk menemui desain serupa di beberapa rumah makan di Pontianak. Menu utama mereka tentu saja pada menu seafood Ale-ale sebuah masakan khas Ketapang, salah satu daerah di provinsi Kalimantan Barat. Tetapi malam tadi saya sekeluarga tidak tertarik untuk makan Ale-ale ini, yang kami pesan adalah Paket 5 Ayam Kayong.

Masakan ini lezat dan nikmat, terutama bagi penggemar masakan serba pedas. Ayam yang dipanggang ditaburi dengan kuah sambal yang banyak, sudah itu ditambah lagi satu sambal terpisah, beberapa lalapan kol dan kacang panjang. Tetapi kelezatan masakan ini menjadi hilang setelah saya menyantap nasinya. Nasi paket ini begitu keras dan sulit dikunyah sama seperti nasi buatan mertua di rumah...kerassss. Sedangkan minuman kami pesan 1 teh es, 1 teh panas, dan 1 gelas cincau susu untuk Yures.
DSC00099 DSC00100
Ada satu hal yang menarik perhatian saya tentang rumah makan ini yaitu pelayannya. Mereka begitu ramah terhadap pelanggan. Kata-kata ucapan selamat datang dan selamat jalan terucap lembut untuk para pelanggan yang keluar masuk. Penjelasan ulang pesanan, dan tutur kata yang sopan membuat saya merasa seperti berada di rumah makan kelas satu.

Kekurangan Pondok ini adalah terletak pada pelayannya sendiri. Saya perhatikan gaya pelayan pria sudah seperti gaya anak punk di Jepang dan Korea, atau lebih tepatnya bergaya grup F4 yang di korea itu. Terasa kurang cocok untuk rumah makan yang bersifat umum. Selain itu pelayan prianya lebih banyak bersolek daripada pelayan wanita.

Tetapi dari keseluruhan rumah makan ini cukup nyaman dan enak buat nongkrong, kencan, dinner party terutama untuk kawula muda. Menunya terjangkau, lezat dan berkelas. Untuk 2 paket paket Ayam Kayong, Nasi plus ayam kecap 1 piring, 1 teh panas dan 1 cincau susu. Saya menghabiskan Rp. 55.000

2 thoughts on “Pondok Ale-ale, maskulin atau feminim?”

  1. Bang Tri anaknya udah besar ya? salam buat anak dan istri ya bang. Ale-ale top banget

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.